Kamis, Januari 10, 2008

Pak Harto Sakit = Bencana Nasional?? [*songong mode ON*]

Males banget rasanya nonton berita lokal minggu-minggu ini. Muallllleeeeees! [mual + males]

Isinya itu loh, bikin jenuh binti bosen. Bikin kesel juga. Bikin laper juga, kalo lagi liputan kuliner. Apakah penyebabnya? Apa gerangan yang menyelipkan selaksa gelisah dalam bilik-bilik jiwa ini? Apa yang bikin gw tiba-tiba jadi ngomong-aneh-bikin-muntah gini? Mari kita cari tahu.

Kita runut kejadian yang jadi topik utama berita-berita lokal sekitar bulan November-Desember 2007. Emm, Saiful Jamil mo cerai, Lela Sari mo kawin, eh bukan yang ini. Banjir di Jakarta session 2 tahun 2007 mulai tayang, gempa di Sulawesi, Banjir lagi di mana-mana dengan tinggi bervariasi, data gw ga detail karena ga konsen pas nonton berita, hohoh. Trus yang heboh Bengawan Solo meluap mengakibatkan daerah di sekitarnya becek setinggi 1 hingga 4 meter. Intinya, INDONESIA LAGI BADAI MUSIBAH. Dalam hati gw pingin ngikutin berita buat tau perkembangan penanganan musibah, adakah perbaikan sistem? adakah kesadaran yang muncul? adakah udang di balik peyek?

Tapi datang berita yang menyebabkan gw bete ga abis-abis. 'Si Bos' di rawat di rumah sakit. Bukan, bukan masalah masuk rumah sakitnya yang bikin gw bete, lah-wong dia sama kakek gw sama-sama masuk rumah sakit, masa' gw larang, itu namanya diskriminasi terhadap kakek-kakek yang sakit.

Yang bikin gw kesel hampir seluruh stasiun TV dengan HEBOH nayangin detail-detail perawatan 'Si Bos'. Dia pipis berapa liter lah, dia senyum berapa kali lah, sambil nyelipin pesan tentang 'jasa-jasa di masa lalu'. Dokternya juga heboh nayangin konferensi pers pake adegan 'tampil dengan tim inti' dilatari background nama penjara, eh nama rumah sakit. Trus [ga nyangka] ada acara doa bersama dan shalat sunnat memohon kesembuhan 'Si Bos', ada juga acara tanda tangan mendukung kesembuhan. Yang lebih parah, ada yang minta supaya semua tuntutan buat 'Si Bos' dibatalkan dengan alasan sudah tua dan sakit, cari kesempitan dalam kesempatan kayaknya. AADESO[Ada Apa Dengan Semua Orang]? AADTV[Ada Apa Dengan TV]? AAGYM[ini bukan singkatan]?

Bagaimanapun juga, gw gapunya jawaban untuk semua pertanyaan, walaupun kadang sotoynya kumat. Tapi jujur aja, gw kecewa berat dengan penggeseran porsi berita bencana dengan berita sakit satu orang saja, terlalu egois, terlalu aneh. Atau mungkin di benak para pemegang kebijakan pemberitaan di stasiun TV kalo sakitnya 'Si Bos' merupakan salah satu dari bencana nasional? atau malah berada dalam prioritas utama?

Ato gw cuman iri aja kakek gw sakit pada waktu yang sama tapi ga diberitain seheboh itu?