Rabu, November 30, 2011

tatap mata saya


MWAHAHAHAHAHAHAHAHA 
MWAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA
MWAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA
MWAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA


Minggu, November 06, 2011

DPK48

Dini hari itu adalah waktu di mana otak saya sedang segar-segarnya, berhubung lagi segar maka saya buka inkscape dan bikin logo ini:
sister AKB48 yang tertukar
Iya iya saya terpengaruh oleh munculnya adik baru AKB48 di Jakarta. KENAPA JAKARTA? INI GAK ADIL! *zoom in muka, zoom in lobang hidung.

Ada yang lebih niyat lagi loh bikinnya, dari dompu, dan sudah punya anggota! *sembahsujud.

DEPOK KAPAN INIH DEPOK *senggol2 om Aris *ditimpa

UPDATE:
buat anak-anak Gunadarma, mungkin mau coba bikin cabang adik AKB48 berbasis kampus? Saya buatin logonya *digibeng orang sekampus

ampun pak satpam

Suroboyo ftw!, saya usulkan judul single terbarunya langsung, "Ku Yakin Sampai di Sana"


-----------
catatan: font yang cocok untuk logo AKB48 jadi-jadian ini nampaknya adalah Avant Grade Gothic LT Extra Light, dengan sedikit perubahan, silahkan berkreasi >:D

Kamis, Oktober 27, 2011

Penggemar

Saya ngefans sama seorang artis, lebih tepatnya artis yang mengandalkan suaranya. Saya paksakan untuk bisa dibilang ngefans lah walaupun gak sampai nangis-darah-gigit-gigit-pintu tiap lagunya diputar atau teriak histeris 300 dB begitu tahu dia sedang berada dalam jangkauan kunjungan saya. Intinya adalah pengendalian diri *plak.

Kalau dari segi wajah, mayoritas teman saya memberi nilai: "biasa". Dan nampaknya penilaian saya juga begitu. Mahluk ini biasa-biasa saja, apalagi dibandingkan dengan gerombolan 9 mahluk halus bertubuh elok dari negeri gingseng yang sangat sulit untuk bisa saya sebut di sini *ditabokin.

Kalau dari segi suara, mungkin saya bisa berbangga hati karena saya bisa mengenali suaranya yang khas di telinga saya, apa mungkin di kehidupan sebelumnya saya adalah hewan peliharaannya? kita nantikan kelanjutannya... walau lagunya biasa-biasa saja.

Jadi saya ngefans karena apa ya? bisa dibilang suaranya, tapi entahlah, pokoknya suka.

Sementara kalian merenungi postingan saya ini, silahkan nikmati video berikut yang alangkah baiknya jika ditonton sembari makan cumi-cumi:



Oh iya, ngomong-ngomong saya fans cumi-cumi juga. 

Jumat, Oktober 07, 2011

nyandroid

nyandroid nyaa~ 
Saya bahkan gak tau kenapa posting ginian.

Senin, Oktober 03, 2011

Review Novel, Komik, Film, Drama, Anime

Cinta dalam cerita itu seperti nafas dalam hidup. Hanya menceritakan tentang nafas tidak akan menarik. Ceritakan tentang hidup, maka saya, selaku 'pembaca', bisa 'melihat' nafas yang menopang cerita itu. Atau anda bisa membuat saya 'melihat' nafas secara berbeda dalam cerita tentang nafas itu sendiri?

nafasnya keliatan kan? *plak



Kamis, Agustus 11, 2011

Logo Gunadarma, Inkscape, dan text to path




Diawali rasa heran karena sudah berabad-abad googling dan gak ketemu juga ukuran logo kampus saya yang sedap dipandang mata, entah dari ukuran, kreasi yang fantastis namun tidak perlu, komposisi warna kurang sreg, bahkan wiki pun menampilkan logo ter-emboss yang menyayat hati. Mungkin saya kurang hoki.

Akhirnya, berbekal (yang katanya namun mudah-mudahan dan nampaknya betul) logo resmi yang dimuat di salah satu staff site, saya buatlah logo ini:
yang grayscale:

ukurannya 675 X 689 pixel, rujukan warna saya ambil dari tautan logo yang saya sertakan di atas.

Teman-teman mahasiswa dan mahasiswi Gunadarma (atau mungkin dosen-dosennya juga nyahaha) silahkan menggunakan logo ini jika berkenan :D


Curhat Teknis (Text to Path pada Inkscape)
Logo ini dibuat menggunakan inkscape 0.48.1. Dan tulisan UNIVERSITAS GUNADARMA dibuat melingkar dengan menggunakan text to path. Jika anda adalah pengguna corelDRAW mungkin tidak terlalu kesulitan dalam menaruh text ke dalam path karena sejumlah opsi yang tersedia (seperti flip text dll). Pada inkscape hal ini agak sedikit, err, tricky.

Pertama-tama, harap dimaklumi karena saya pemula *sungkem kalo ada suhu2 mampir

Beginilah cara saya:
- siapkan objek lingkaran dan text


- seleksi lingkaran dan text kemudian mampirlah ke toolbar: text>put on path



- setelah put on path diklik hasilnya ada pada (1). Karena munculnya tidak di tempat yang saya harapkan maka saya rotate ((2)klik dua kali hingga muncul tanda panah melengkung untuk rotasi) dan hasilnya ada pada (3).

- Text belum melingkar sempurna, jadi saya scale lingkaran supaya jadi lebih kecil dan text tetap mengikuti bentuk lingkaran (4). Karena lingkaran hanya berupa garis bantu maka saya set warna garis sebagai transparan (5). cara set warna garis, kunjungi toolbar: object>fill and stroke>stroke paint, pilih tanda silang (no paint).

- Bagaimana jika ingin tulisannya di dalam lingkaran? tinggal flip saja lingkarannya sehingga text berada di dalam lingkaran (6).

- Untuk mengedit jarak antar huruf bisa dilakukan ketika text tool masih aktif, sehingga properties barnya masih tampak pada gambar berikut:

tambah nilai pada spacing between letters sampai jarak hurufnya sesuai dengan yang diinginkan.

contoh bagaimana trik text to path dengan memainkan spacing between letters diterapkan:


demikianlah u_u, selamat mencoba.
Kalau ada yang protes soal judul postingan ini, silahkan juga *melipir

Jumat, Juli 29, 2011

Optimasi Gambar Untuk Web dengan GIMP (2.6)




how to optimize image using GIMP? Jreng, saya gak tau, maka saya googling. Beruntungnya google tidak menghina-hina kosakata saya yang cupu berlevel-level melainkan mendatangkan link-link yang sesuai kebutuhan. Jadi setelah membaca sedikit dan praktek sedikit akan saya jabarkan caranya. Jika anda terbiasa mengoptimasi gambar dengan Photoshop, LUPAKAN untuk sementara, kosongkan pikiran anda, masuk lebih dalam ke bawah alam bawah sadar anda, lalu tertidurlah.

Tanpa Plug-in

Sebenarnya optimasi itu sendiri bisa dilakukan tanpa plug-in yaitu dengan:

1. menjadikan mode gambar hasil olahan anda sebagai indexed. (image>mode>indexed)


lalu akan muncul tampilan di bawah ini:



Jika gambar anda tidak terlalu kompleks, atau bahkan hanya berwarna hitam dan putih tinggal menyesuaikan jumlah warnanya saja. Lain halnya jika gambar yang hendak anda optimasi berupa foto, kualitas gambar bisa menurun drastis. Untuk foto saya sarankan format .JPG jika ingin ukurannya tidak terlalu bengkak.

2. setelah bermain dengan mode sebelumnya (jika hasilnya memuaskan silahkan dipakai, jika tidak sebaiknya kembali ke mode awal(RGB)) , ketika hendak "save as" kita masih diberikan opsi untuk optimasi lebih lanjut, untuk kali ini saya beri screenshoot saat kita memilih format .JPG dan .PNG saja:




pada opsi format .JPG ini kita bisa memainkan kualitas gambar, atau pada advanced option kita naikkan smoothing sampai ukuran tertentu, coba-coba juga kombinasi optimasi yang lainnya :P.




pada opsi format .PNG ini unchecked opsi save resolution dan save creation time, setelah dicoba bisa memberi diskon ukuran pada gambar yang disimpan, walau sedikit.

kelemahan teknik non-plugin ini adalah tidak adanya preview gambar teroptimasi sehingga trial-errornya lumayan memakan waktu, terlebih anda bersahabat dengan menula (mesin lanjut usia). Dan nampaknya opsi untuk JPG lebih banyak ketimbang PNG terbukti dengan perbedaan ukuran file yang lumayan besar (.xcf=2MB ->.png=800kb ->.jpg=90kb).


Dengan Plug-in

GIMP juga menyediakan opsi untuk menambahkan plug-in. Biasanya plug-in diaktifkan dengan cara menaruh file ekstensi ke dalam direktori plug-in. cek: edit>preferences>folders>plug-ins untuk mengetahui di mana lokasi plug-in berada, taruh plug-in di sana(akses foldernya). Setelah ditaruh pada tempatnya, restart GIMP untuk mengaktifkannya. membaca file README yang disertakan pada plug-in akan sangat membantu.

Jika plugin telah aktif (misalnya pada contoh ini saya gunakan save for web dan RIOT) maka akan muncul seperti di bawah ini:


Ada dua ekor plug-in untuk optimasi gambar yang bisa dicoba:

Setelah instalasi plug-in, buka file>save for web untuk sampai ke tampilan berikut:



silahkan dicoba-coba format yang tersedia, plug-in ini menampilkan preview hasil optimasi dan juga ukuran gambar. Kekurangannya mungkin karena menu optimasi (selain resize) yang sama saja dengan ketika kita menggunakan optimasi pada "save as".

Setelah instalasi plug-in, buka file>save for web with RIOT untuk sampai ke tampilan berikut:



Catatan penting: jika menggunakan RIOT pastikan gambar anda sudah flattened (image>flatten image) karena nampaknya RIOT (versi 0.4) hanya bisa mengakses layer yang aktif saja jika gambar masih berupa layer terpisah. Anda bisa meng-undo gambar ke bentuk layer terpisah setelah menggunakan RIOT.

Menariknya dalam penggunaan RIOT ini terdapat lebih banyak opsi dan optimasi lebih rendah lagi dengan membandingkan gambar asli dan hasil optimasi. Salah satu opsi menarik adalah compress to size, kita bisa memasukkan ukuran gambar yang diinginkan lalu RIOT secara otomatis mengoptimasi gambar.

Daaaaaan akhirnyaaaa, pilihan saya untuk mengoptimasi gambar jatuh padaaaa, jeng jeng jeng jeeeng, RIOT dengan tipe file .jpg, berhubung yang saya optimasi adalah gambar berikut:



*template poster dipersembahkan oleh: ei819
**Foto orangnya dipersembahkan oleh capture dari metro TV oleh siapa saya lupa *plak


Err, sebenarnya saya ragu, kata yang tepat itu optimasi atau optimisasi atau optimisasasasisisasais *halah. Jika ada yang nyasar ke sini dan punya koreksi, masukan, tambahan, pertanyaan silahkan meninggalkan komentar pada tempatnya.

Selamat mencoba. Sambel dijual terpisah

Jumat, Juni 24, 2011

menunggumu

Kau tahu, aku sedang bermimpi tentangmu yang tenggelam dalam ketertiban penuh kesadaran, meringankan beban orang banyak, mengusir penat jalanan. Jangan bangunkan aku dulu, saat ini.

Kau tahu, aku bermimpi tentang kotamu yang semakin tua dan semakin padat, dipenuhi gedung menjulang yang berbalut asap hitam dan langit yang kemerahan setiap hari, semua orang memanggul tabung oksigen di punggungnya setiap bepergian. Oke, bangunkan aku.

Jakarta 484

Senin, Juni 13, 2011

Ayam Panggang Madu Strawberry


Syahdan suatu ketika di negeri seribu malam, tidak terjadi apa-apa. Lokasi kemudian berpindah ke Ibukota Indonesia, sebelah baratnya, di sebuah pojok antah berantah. Tersebutlah segerombolan orang-orang yang tidak diragukan lagi keamatirannya merencanakan untuk membuat sesuatu yang tidak pernah mereka buat sebelumnya seumur hidup mereka.

Adalah ayam bakar dengan citarasa baru yang maknyus di mata, di lidah, di perut, dan di hati. Berbekal kemauan yang kuat, tekad membara, semangat menggelora dan uang patungan secukupnya mereka pun bergerilya ke sebuah pusat perbelanjaan yang akses masuknya maharibet dengan kisah kasih nyasar yang terlalu menyedihkan untuk diceritakan. Sedikit pelajaran yang bisa diambil: dekat dan terlihat itu belum tentu gampang dicapai gan, ibukota keras gan jangan asal naik fly over nyasarnya jauh loh.

Singkat kata mereka pun berhasil menjejakkan kaki di pusat perbelanjaan tersebut, marilah kita sebut itu mall C. Apakah mereka segera berbelanja hal yang dibutuhkan, mengingat hari sudah gelap? otentu tidak. Pertama-tama mereka reflek menjelajah toko buku G, bergentayangan di pojokan komik, berakhir dengan membeli buku. Kemudian gentayangan berlanjut ke toko action figure, fanboying sama karakter anime, sampe akhirnya tokonya tutup.

Singkat kata lagi, mereka sudah selesai berbelanja kebutuhan, satu ekor ayam dan sebagainya, sedangkan untuk bumbu dapur dan rempah konon sudah disiapkan oleh salah seorang oknum yang rumahnya kosong ditinggal ortunya jalan-jalan sedangkan kulkasnya penuh bahan masakan.

Akhirnya mereka tiba di TKP. Setelah cooling down sebentar, nonton TV, baca komik, main game, main-main remote AC kayak orang udik, ritual pun dimulai tepat tengah malam. Ritual yang mungkin tadinya hanya dilakukan pada air, mie instan, telur ceplok, dan chicken nugget. Ya, ritual yang sangat mistis dan kelam penting bagi kelangsungan hidup umat manusia, memasak.

Dan seperti halnya terjadi di kalangan mahluk-mahluk amatir lainnya, mereka gagal mengenali hal-hal seperti rempah-rempah dan sebagainya sehingga membutuhkan salah satu jurus andalan who wants to be a millionare, phone-a-friend.


[Lagi-lagi] Singkat kata lagi, bahan-bahan aneh itu sudah bisa dikenali dengan baik. Dan dimulailah peng-ungkep-an. Dimulai dari sebutir kemiri, 3 siung bawang putih, ketumbar secukupnya, garam secukupnya, dan ditambah cabe rawit inisiatif, semua diulek sampai kayaknya halus. Kemudian potongan ayam yang telah dibersihkan dilumuri bumbu tersebut hingga rata, didiamkan sebentar kemudian ditaruh di wajan yang bersemayam di atas api kecil sebuah kompor gas.

Setelah didiamkan beberapa saat, saatnya mengeluarkan panggangan dari DRTV yang sangat terkenal itu, konon para penggunanya bahagia sesaat memegangnya, mereka yang sangat amatir ini pun penasaran dan mulai menjilatinya, dan tiba-tiba bahagia.

Sebentar, apa ini dikategorikan memanggang? mereka tidak peduli, lagian arangnya ketemu tapi tempat buat manggangnya gak ada sih, the show must go on.

Tibalah di saat pelumuran ayam yang hendak dipanggang itu, salah seorang oknum mengeluarkan zat asing untuk dilumuri di potongan ayam. Itulah madu strawberry, mereka semua terpukau melihat kemasan berbentuk choki choki itu. Kemudian si oknum memasukkan si madu strawberry ke dalam kecap, diaduk-aduk, diaduk-aduk, diaduk-aduk, yang lain hanya terdiam bergidik. Sekali lagi, the show must go on T_T.



Dan akhirnya pertempuran berdarah di dapur usai sudah. Ayam telah matang terpanggang, timun telah tipis teriris, nasi telah lantang terhidang, mata pun garang memandang, sekejap lahap menyantap.

Dan satu kata yang tersebut dari masing-masing mahluk ini: ENAAK~. Entah enak karena lapar, atau kreasi mereka memang layak untuk dikonsumsi manusia normal di muka bumi ini. Yang tersisa setelah segalanya tandas hanyalah rasa bahagia di lidah, perut, dan hati.

-TAMAT-




DISCLAIMER: segala teknik memasak yang dipraktekan belum teruji di warung ayam bakar, harap berhati-hati dalam menerapkannya. Oknum-oknum yang melakukan malpraktek terhadap pemanggangan ayam ini disinyalir mempunyai lambung baja, otak kawat dan gigi besi. Postingan ini ditulis dalam keadaan ngantuk. Disclaimer ini memang lebay tapi siapa tau aja emang berbahaya sih.


Senin, Mei 30, 2011

ini kisah nyata!

Jadi begini ceritanya, tersebutlah suatu malam yang sangat gelap, tiga orang pemuda jomblo single kurang kerjaan melihat seekor kucing kecil lucu mempesona berkeliaran di depan kosan. Tiba-tiba aura kasih sayang mendadak terpancar dari mata kecil bersinar si kucing kecil, radiasi pesonanya begitu memukau, menyentuh hati siapapun yang menatapnya. Hati para pemuda itupun luluh, terbuai dan jatuh cinta. Oh inikah gerangan cinta yang menghiasi kisah manusia sepanjang masa? gairah pun dibuai terlena nikmati manis kata asmara *silahkan lihat lanjutannya di sini* *digibeng*

Singkat kata, setelah mengobrak-abrik persediaan pangan yang tersisa selepas makan, ditemukanlah sepotong ikan utuh (bentar deh, ini sebenernya lauknya siapa gitu, sudahlah), dan dengan sesegera mungkin dan tempo yang sesingkat-singkatnya ikan tersebut menjadi persembahan bagi kucing imut kecil lucu mempesona itu.

Berikut lanjutan ceritanya:


Err, yang terakhir itu adalah fiksi nan mahalebay sekedar pemanis (?). Bentuk muka oknum-oknum yang terlibat kejadian ini, status sosial, IPK terakhir, dosen pembimbing, progres skripsi, anime yang sedang ditonton, semua dirahasiakan demi menjaga kelangsungan hidup mahluk langka. Tidak ada hewan yang disakiti dalam kejadian ini, mungkin dibikin sebel sedikit tak apalah *dikeroyok kucing sekomplek*

Pesan Moral(?): Jangan mengganggu kucing yang belum dikenal saat si kucing sedang makan.





Berpikir sejenak...
Hmm...

Ini postingan macam apa sih ya? =_="

Selasa, Mei 10, 2011

Bergeming

Orang itu masih saja berdiri di tengah lalu-lalang manusia, menghirup keramaian yang memadati sebuah titik sibuk di tengah kota. Tidak ada yang mengenalnya, tidak ada yang memperdulikannya. Begitupun dengannya, tenggelam di dasar ketidak pedulian yang paling dalam dibandingkan sekitarnya. Ah mungkin memang dunia juga begitu, sarat dengan ketidak pedulian, dan orang ini sedang berlatih untuk menjadi yang paling hebat.



Sesekali matanya terpejam cukup lama, sambil menghirup udara, perlahan. Kemudian mendadak membelalak sembari menahan nafas ketika ada langkah tergesa yang melintas tak jauh darinya. Tak lama kemudian menghela seperti mendapatkan kelegaan yang luar biasa setelah langkah itu menjauh, entah karena alasan apa. Apa dia sedang lari dari seseorang?

Kadang ada senyum di ujung bibirnya melihat langkah-langkah berwajah bingung atau pandang kosong tak tentu arah yang melintas di hadapannya. Senyuman superior.

Dan dia masih saja di situ hingga jingga menyelimuti langit.

Kau tahu apa yang paling menyedihkan? Adalah aku yang (menemukan dan) menonton orang-orang seperti ini dan masih saja bergeming.

sumber gambar: Financial Post

Jumat, April 29, 2011

Hening

.

Senin, April 18, 2011

runtuh


Apa kau takut berharap, ketika setiap yang kau harapkan begitu dalam, datang dalam wujud jauh dari kesesuaian,datang bersama kecewa yang menghujam? Apa kau berada di sana, di sudut ruangan, lunglai untuk segala kesia-siaan yang telah kau alami? Apa hatimu runtuh, berserak jadi debu lantas tertiup badai putus asa?

Apa kau masih ingin membangun kembali harapan yang baru? Bagaimana?

sumber gambar

Minggu, Maret 27, 2011

Perpisahan

Tenshi ni fureta yo

Perpisahan itu hal yang pasti, bersembunyi di balik penyangkalan tidak akan merubah apapun menjadi lebih baik, dan tidak membuat hal yang sudah pasti berubah. Iya, saya sudah sering mendengar kata-kata semacam "perpisahan itu selalu jadi akhir dari sesuatu dan awal bagi hal-hal baru yang lainnya", tapi tetap saja, sulit.

Entah kenapa, mungkin karena saya tidak pandai mengenang?

Jumat, Maret 18, 2011

ini tentang seni?


Industri hiburan memang selalu menggiurkan, materi berlimpah dan publikasi yang luar biasa menggiring minat dan menyeret bakat-bakat dari penjuru negeri untuk memeras keringatnya demi suguhan acara yang menarik hati, atau menghadirkan tawa. Keahlian dalam berbagai bidang seni ditampilkan, menyanyi, menari, berakting, dan sebagainya.


Ini masih tentang seni, bukan?

Entahlah, melihat tontonan kejar tayang yang diputar tiga jam sehari, atau acara guyonan satu setengah jam hampir tiap hari yang kadang disiarkan langsung membuat beberapa pertanyaan selalu mampir di benak saya, bagaimana dengan kehidupan para pemainnya? Apa ini sudah termasuk kategori kerja rodi? Lantas bagaimana dengan konten yang dijejalkan dalam acara tersebut? terjagakah kualitasnya? kualitas? apa kata `kualitas` pernah melintas di benak orang-orang yang menayangkan acara tersebut? dst dst.

Ini masih tentang seni, bukan?

Entahlah, liputan infotainment (info seputar dunia hiburan?.....????) lebih gemar meliput tentang pacar baru si A atau hubungan perkawinan si B yang kandas ketimbang hasil karya mereka. Atau koleksi sandal jepit si C dan skandal si KD *eh* ketimbang sumbangsih mereka di dunia hiburan.

Ini masih tentang seni, bukan?

Penggemar seperti kalian (err dan kayaknya saya juga) mungkin ingin tahu bagaimana sebenarnya kehidupan para pegiat seni yang karyanya kalian kagumi, bukan? Nah seorang entah siapa dari antah berantah tiba-tiba terkenal di lapak informasi hiburan karena skandal bukan karena karya apa gak bikin muak? mungkin tidak dengan anda, memuakkan bagi saya. Informasi yang benar-benar bermutu untuk ditinggalkan. Penggemar akan mencari tahu (dan lauk lainnya), tidak sekedar disuapi menu terbatas tak bermutu basbang beracun.

Ini masih tentang seni, bukan?

Dahulu kala, ketika saya masih lucu-lucunya *EHEM, bahkan sampai sekarang*, saya menatap dengan binar-binar bintang di mata atas sebuah lukisan peta yang dibuat oleh seorang kerabat, di dinding kamar saya, iya, di dinding kamar. Dan lantas berabad-abad kemudian saya beruntung bisa diajar oleh seorang guru yang mengekspresikan ajaran sederhananya dalam kata-kata yang mengagumkan, jika beberapa orang menjelaskan, guru saya menunjukkan dan mengekspresikan.

err, ini apa sih?

Ini masih tentang seni

Tentang ekspresi jiwa yang tersalurkan lewat berbagai media, tentang pesan sendu yang dititipkan lewat hembusan seruling yang mendayu memecah keheningan malam yang syahdu, tentang kerinduan yang dituang dalam lagu sederhana dan petikan gitar, tentang semangat yang berkobar lewat kata-kata lantang sajak perjuangan, tentang suara hati yang tidak kuasa diemban kata untuk bisa menjelma dan dimengerti.

Ini saya ngomong apa sih? *plak*

Saya kagum dengan Toyosaki Aki dan Hanazawa Kana karena akting suaranya di beberapa anime, atau Kanako Sakai karena dia salah seorang seiyu yang saya tahu berasal dari Fukuoka dan walaupun baru nonton satu animenya saja. Iya, alasan saya karena dia dari Fukuoka, jangan tanya kenapa. Dua yang pertama (dan tentu dengan sempalan Taketatsu Ayana dan Nana Mizuki) Suaranya sangat mudah dikenali. Yak, saya mengagumi karena karya (?) mereka. Kalau berdasarkan teman yang mudah membandingkan siapa yang wajahnya WAH sama yang enggak, maka deretan yang saya kagumi ini tidak masuk list-nya dia. Ya begitulah. Dan ada beberapa lagi yang tidak bisa saya sebutkan kenapa alasannya pokoknya gitudeh. Saya suka. Saya juga suka dengan anime-anime keluaran studio SHAFT, dan A-1.


kyaa aki chwaan *pasang tampang fanboy* *eh*

Ini postingan tentang seni, bukan?


Selasa, Maret 15, 2011

Jemari yang semakin lemah


Tulisan tangan saya tidak terlalu bagus untuk dicerna mata yang setiap hari memandang keindahan dunia, atau dibaca manusia-manusia berpandangan sempit yang tidak bisa menerima gaya baru nan abstrak yang belum pernah mereka lihat seumur hidup mereka *uhuk-UHUK-HUKHUK*, saya tidak menyesali kelebihan saya untuk menampilkan tulisan begitu berbeda dari tulisan tangan yang monoton dan terlalu teratur. Saya suka gaya saya.

OKE TULISAN TANGAN SAYA EMANG GAK BAGUS BAGUS AMAT, PROBLEM? *plak*

U MAD?


Namun ketika pertama kali berkenalan dengan alat bantu tulis bernama mesin tik (atau mesin ketik?) saya benar-benar terpukau. Benda ajaib itu, yang dibawa pulang pergi setiap hari oleh bapak saya, menghasilkan tulisan yang tertata rapi dengan irama yang membuat saya bersenandung dan menari, oh oke tidak seheboh itu, intinya saya tertarik. Oh dan susunan tutsnya adalah QWERTY, btw.

Inikah saatnya saya terbebas dari gaya super abstrak yang saya banggakan? Inikah awal dari segala keteraturan yang akan saya hasilkan? Memainkan ketukan irama yang menenangkan hati sembari menelurkan buah pikir cemerlang dengan alat ajaib ini? akankah aku terbang bersamamu, butterfly? *pletaaak*

Singkat kata, suatu hari, saya 'menguasai' alat ini.

Jika bisa di-lebay-kan, saya lumayan berdarah-darah dalam menggunakan mesin tik. Tuts-nya lumayan keras untuk ditekan dan mempunyai jarak yang cukup untuk menelan jemari kecil saya waktu itu. Tapi kesulitan itu ada untuk diatasi, dan saya katakan saya (lumayan) berhasil menelurkan irama saya sendiri, memang tidak mencapai kecepatan yang memadai, tapi untuk sepuluh jari kecil yang menari di tuts mesin penuh celah ini, i feel good.

Kemudian, di sebuah kantor redaksi majalah dinding dan tabloid sekolah, saya menemukan mesin tik elektrik, WOOOOW ELEKTRIK, PAKE LISTRIK. Dan saya mendapati diri saya merasa lebih kuat dari biasanya. TUTS MESIN TIK ELEKTRIK LEMAH, DAN JEMARI SAYA BERTAMBAH KUAT.

Oh pada saat yang sama pertama kali pula saya merasakan enaknya mengetik di keyboard komputer, IBM pentium II dengan HDD dua giga dan disket yang bisa buat kipas sate. KEYBOARD KOMPUTER LEMAH. Ngetik mendadak lebih ngebut, senior mendadak nitip tugas ke saya =3=" *berharap-dulu-gak-polos-polos-amat-jadi-bisa-mintak-imbalan*

Dan suatu hari saya memiliki hape pertama saya, nokia 2100 biru lucu yang walau jatuh dari lantai dua tetap sehat tampan walafiat. Dan saya pun mengenal gaya mengetik pake jempol, TUTS HAPE LEMAAH, jempol saya mendadak six pack.

Sensasi kekuatan yang bertambah pun berlanjut.

Sensasi pertama ketika punya leptop baru seberat tiga kilo belum termasuk adaptor yang kayak batu bata itu, KEYBOARD LEPTOP LEMAAAAAAAAAAAH, SENSITIIIP. Ah dan saya harus membatasi kekuatan saya, tak apa lah.

Sekarang jamannya layar towel, towel dikit dan keajaiban terjadi, pesan terkirim, gambar tersimpan, transaksi terlaksana dengan towelan nan lemah. LEMAAAAH

wait, lemah?

LEMAH?

Seketika tersadar, hidup di depan laptop dengan keyboard sensitif dan touchpad, di depan komputer dengan keyboard yang 'lunak', dan keseharian yang ditemani handphone dengan layar towel, jemari saya melupakan kekuatan masa lalu yang begitu membanggakan.

SAYA MELEMAH? NO WAY!!

hiks, saya melemah

Ini pasti konspirasi industri elektronik yang ingin membuat penggunanya kehilangan kekuatan fisik pada jemari mereka, INI PASTI KONSPIRASI UNTUK MELEMAHkAN JEMARI SAYA! *ditampol sampe ganteng*

sumber gambar: technabob

Kamis, Januari 27, 2011

lorong gelap

Apa yang ada di pikiran kalian ketika melintasi lorong gelap yang cukup panjang? apa yang kalian bayangkan? apa yang kalian harapkan terjadi? jika di ujung lorong itu ada pendar lemah cahaya apa kalian akan bergegas ke arahnya?

Baru saja saya melintasi lorong yang seperti itu, sepulang jajan (yayaya, saya sering kadang keluyuran malam-malam ke minimarket buat jajan =3=), lorong yang biasa saya lalui nampaknya mengalami masalah dalam pencahayaan (ehm, mati lampu). Dan seperti biasa, plurk selalu menyelamatkan saya (nge-plurk sambil jalan-jalan di tempat gelap, don't try this at home*).

Apakah isi belanjaan saya? hmhmhm, selain frozz, brown coffee, pocky, it's classified XD (padahal udah disebut semuanya *plak*) (oke, emang gak semuanya disebut *plak*).

Kembali lagi ke lorong gelap, sepanjang perjalanan saya jadi teringat teman yang parnoan** sama tempat gelap, apalagi kalau bentuknya jalan sempit yang panjaang banget*** bakal heboh sendiri. Mungkin sebenarnya demikianlah metode yang tepat dalam mengusir mahluk gaib, dan rasa takut(?). Saya sendiri tidak seheboh itu juga, walau deg-degan juga sih, takut nginjek kotoran kucing atau kesandung kantong sampah atau nabrak tembok yang gak keliatan saking gelapnya, atau dicolek bencong (amit-amit jabang kunyit buat yang terakhir L(==||||)").

lah kamu sendiri gak ngebayangin mahluk-mahluk aneh, man?

Err, ngebayangin gak ya? hmm, apa karena jarang nonton film horor/ baca/ menjiwai cerita horor jadinya saya gak menjadikan bayangan mahluk aneh sebagai prioritas di otak? hmm, gatau juga. Atau karena daya imajinasi saya emang di bawah standar manusia pada umumnya ya? orz *mendadak depresi*



zetsubou shitaaaa!!! *plak*

Apakah karena terlalu banyak nonton film horor atau mendengar cerita misteri atau ngefans berat dengan kepala bercahayanya hari panca sehingga terbayang-bayang mahluk-mahluk aneh setiap melintas tempat gelap? Atau karena punya pengalaman mistis? Atau karena memang bisa melihat mahluk-mahluk tersebut? Atau memang terlahir untuk menghebohkan segala macam hal? Atau karena alasan lain?

hmmm...

Oh iya, sedikit pengamatan (?) pribadi, suasana seram sewaktu nonton film horor itu biasanya lebih terasa jika kualitas suara dari film tersebut bagus. Coba deh ditonton tanpa suara, atau ditonton dengan speaker yang sudah menjelang ajal. Jika kalian punya mata tajam yang sangat jeli memperhatikan detail di film sehingga bisa menemukan goofs (cacat, cela) yang ada, mungkin itu juga membantu.

......err, baiklah, sekarang saatnya membongkar cemilan malam~

btw, COBA LIAT DEH NENGOK, DI BELAKANG KALIAN ADA APA HAYOOOO!!! *diulek*

-----
* ya lagian saya juga nyobanya di jalan sih, silahkan ikutan~
** diduga kuat kata parno berasal dari kata paranoid yang mengalami pembetawian ejaan*ngarang*
*** misalnya tembusan dari poltek UI ke jl. M Ridwan Rais, lumayan juga kalo jam 9 malam lewat situ, mwahahaha



Jumat, Januari 21, 2011

30 centimeter

Entah kenapa dia selalu begitu. Tertatih-tatih dalam berkata. Kadang terjerembab dalam percakapan trivial tak berujung, menjauhkannya dari inti pembicaraan. Ketika tersadar ia telah terombang-ambing entah di mana, jauh dari tepi yang ingin dilabuhinya.

Dia selalu saja begitu, bahkan ketika lawan bicara sudah tahu apa yang hendak disampaikan, kata-kata menguap begitu saja seperti tidak pernah mampir di ujung lidah. Entah apa saat itu ia ingin menguap saja bersama kata-kata yang hilang, entah.

Mungkin dia merasa tidak cukup bersahabat dengan kata-kata, mungkin dia tidak bisa menerjemahkan suara benaknya dalam kata, mungkin dia muak dengan kehidupan yang penuh kata tapi miskin makna dan dampak. Ah, mungkin dia hanya tidak bisa menyuarakan kata yang tersangkut ditenggorokannya.

Ada saat di mana dia menyerah dari mengandalkan kata-kata. Mengupayakan sesuatu, di luar kata, agar pesan tersampai. Kadang tersampai, kadang disalah artikan. Tapi pada akhirnya manusia mengharapkan kata juga. Seperti air direguk untuk menghapus dahaga, kata dilantunkan untuk menjelaskan maksud.

Untuk beberapa saat aku bisa mengerti gumam lemahnya, "mengapa manusia tidak belajar telepati saja, berbicara sungguh melelahkan". Bukan hanya kau yang berpikir begitu. Tapi mungkin aku tak pintar berbicara tentang ini. Tidak juga dia. Entah kenapa aku yakin begitu. Sepertinya kita hidup di gelombang yang sama. Sepertinya.

Ingin menepuk bahunya. Tapi kaki ini tidak beranjak juga. Lebih dari 30 centimeter dan aku merasakan ada harmoni yang pudar dari gelombang ini. Gelombang di mana kita hidup. Seperti ada yang buram, hilang dan terlupakan jika langkah ini mendekat.