Rabu, Juli 16, 2014

Damai

Kucing-kucing liar di sekitar rumah sering sekali berkelahi. Ada "si Om" sesepuh gang sini yang pada masa jayanya selalu meninggalkan sesajen di teras rumah. Ada buntut bondol penguasa genteng yang jarang terlihat menapak di tanah. Ada kucing tuxedo, si anak muda yang berusaha menjaga eksistensi di antara para sepuh. Ada kucing abu-abu putih yang tampaknya kucing ningrat dalam pelarian. Ada kucing loreng yang hanya datang mengganggu kucing betina gang sini. Setiap kali mereka berpapasan pasti terjadi keributan.  

Hidup adalah perang (hoahem).
Lantas adakah harapan terciptanya perdamaian di muka bumi gang sini?

Adalah tunas-tunas muda yang murni dari pertumpahan bulu dan perebutan wilayah yang menjadi pelopor perdamaian. Mereka tidak terbawa isu, mereka tidak terseret drama, mereka tidak saling berburuk sangka, mereka yang menatap masa depan cerah dengan riang gembira.
 



Adalah jasa seorang ibu, ikatan air susu dan kehangatan yang menjinakkan hati anak-anak muda ini. Datang satu persatu dari daerah yang berbeda dengan latar belakang masalah keluarga masing-masing, seorang ibu membuka dirinya dengan kasih sayang, menyentuh hati yang dingin dan kesepian dengan asupan air susu.

Berpelukan di kala dingin, berjemur bersama di kala mentari menyingsing.

Menariknya, anak-anak muda ini tidak punya masalah sekali dengan para pejantan dewasa yang beredar. Bersenda gurau di sekitar si Om, makan bersama kucing tuxedo, menatap kucing loreng menggoda sang ibu. Tidak mempedulikan kucing ningrat yang kadang melintas.

Suasana terasa hangat menyentuh hati setiap kali anak-anak ini berlarian mengejar kecoa atau capung, Bermain gulat di bawah pohon jambu, makan ikan bersama tanpa saling mendesis, saling menjilati ketika nongkrong bersama.  

Indahnya perdamaian, andai orang-orang dewasa itu tahu.