Selasa, Maret 15, 2011

Jemari yang semakin lemah


Tulisan tangan saya tidak terlalu bagus untuk dicerna mata yang setiap hari memandang keindahan dunia, atau dibaca manusia-manusia berpandangan sempit yang tidak bisa menerima gaya baru nan abstrak yang belum pernah mereka lihat seumur hidup mereka *uhuk-UHUK-HUKHUK*, saya tidak menyesali kelebihan saya untuk menampilkan tulisan begitu berbeda dari tulisan tangan yang monoton dan terlalu teratur. Saya suka gaya saya.

OKE TULISAN TANGAN SAYA EMANG GAK BAGUS BAGUS AMAT, PROBLEM? *plak*

U MAD?


Namun ketika pertama kali berkenalan dengan alat bantu tulis bernama mesin tik (atau mesin ketik?) saya benar-benar terpukau. Benda ajaib itu, yang dibawa pulang pergi setiap hari oleh bapak saya, menghasilkan tulisan yang tertata rapi dengan irama yang membuat saya bersenandung dan menari, oh oke tidak seheboh itu, intinya saya tertarik. Oh dan susunan tutsnya adalah QWERTY, btw.

Inikah saatnya saya terbebas dari gaya super abstrak yang saya banggakan? Inikah awal dari segala keteraturan yang akan saya hasilkan? Memainkan ketukan irama yang menenangkan hati sembari menelurkan buah pikir cemerlang dengan alat ajaib ini? akankah aku terbang bersamamu, butterfly? *pletaaak*

Singkat kata, suatu hari, saya 'menguasai' alat ini.

Jika bisa di-lebay-kan, saya lumayan berdarah-darah dalam menggunakan mesin tik. Tuts-nya lumayan keras untuk ditekan dan mempunyai jarak yang cukup untuk menelan jemari kecil saya waktu itu. Tapi kesulitan itu ada untuk diatasi, dan saya katakan saya (lumayan) berhasil menelurkan irama saya sendiri, memang tidak mencapai kecepatan yang memadai, tapi untuk sepuluh jari kecil yang menari di tuts mesin penuh celah ini, i feel good.

Kemudian, di sebuah kantor redaksi majalah dinding dan tabloid sekolah, saya menemukan mesin tik elektrik, WOOOOW ELEKTRIK, PAKE LISTRIK. Dan saya mendapati diri saya merasa lebih kuat dari biasanya. TUTS MESIN TIK ELEKTRIK LEMAH, DAN JEMARI SAYA BERTAMBAH KUAT.

Oh pada saat yang sama pertama kali pula saya merasakan enaknya mengetik di keyboard komputer, IBM pentium II dengan HDD dua giga dan disket yang bisa buat kipas sate. KEYBOARD KOMPUTER LEMAH. Ngetik mendadak lebih ngebut, senior mendadak nitip tugas ke saya =3=" *berharap-dulu-gak-polos-polos-amat-jadi-bisa-mintak-imbalan*

Dan suatu hari saya memiliki hape pertama saya, nokia 2100 biru lucu yang walau jatuh dari lantai dua tetap sehat tampan walafiat. Dan saya pun mengenal gaya mengetik pake jempol, TUTS HAPE LEMAAH, jempol saya mendadak six pack.

Sensasi kekuatan yang bertambah pun berlanjut.

Sensasi pertama ketika punya leptop baru seberat tiga kilo belum termasuk adaptor yang kayak batu bata itu, KEYBOARD LEPTOP LEMAAAAAAAAAAAH, SENSITIIIP. Ah dan saya harus membatasi kekuatan saya, tak apa lah.

Sekarang jamannya layar towel, towel dikit dan keajaiban terjadi, pesan terkirim, gambar tersimpan, transaksi terlaksana dengan towelan nan lemah. LEMAAAAH

wait, lemah?

LEMAH?

Seketika tersadar, hidup di depan laptop dengan keyboard sensitif dan touchpad, di depan komputer dengan keyboard yang 'lunak', dan keseharian yang ditemani handphone dengan layar towel, jemari saya melupakan kekuatan masa lalu yang begitu membanggakan.

SAYA MELEMAH? NO WAY!!

hiks, saya melemah

Ini pasti konspirasi industri elektronik yang ingin membuat penggunanya kehilangan kekuatan fisik pada jemari mereka, INI PASTI KONSPIRASI UNTUK MELEMAHkAN JEMARI SAYA! *ditampol sampe ganteng*

sumber gambar: technabob