Jumat, Maret 18, 2011

ini tentang seni?


Industri hiburan memang selalu menggiurkan, materi berlimpah dan publikasi yang luar biasa menggiring minat dan menyeret bakat-bakat dari penjuru negeri untuk memeras keringatnya demi suguhan acara yang menarik hati, atau menghadirkan tawa. Keahlian dalam berbagai bidang seni ditampilkan, menyanyi, menari, berakting, dan sebagainya.


Ini masih tentang seni, bukan?

Entahlah, melihat tontonan kejar tayang yang diputar tiga jam sehari, atau acara guyonan satu setengah jam hampir tiap hari yang kadang disiarkan langsung membuat beberapa pertanyaan selalu mampir di benak saya, bagaimana dengan kehidupan para pemainnya? Apa ini sudah termasuk kategori kerja rodi? Lantas bagaimana dengan konten yang dijejalkan dalam acara tersebut? terjagakah kualitasnya? kualitas? apa kata `kualitas` pernah melintas di benak orang-orang yang menayangkan acara tersebut? dst dst.

Ini masih tentang seni, bukan?

Entahlah, liputan infotainment (info seputar dunia hiburan?.....????) lebih gemar meliput tentang pacar baru si A atau hubungan perkawinan si B yang kandas ketimbang hasil karya mereka. Atau koleksi sandal jepit si C dan skandal si KD *eh* ketimbang sumbangsih mereka di dunia hiburan.

Ini masih tentang seni, bukan?

Penggemar seperti kalian (err dan kayaknya saya juga) mungkin ingin tahu bagaimana sebenarnya kehidupan para pegiat seni yang karyanya kalian kagumi, bukan? Nah seorang entah siapa dari antah berantah tiba-tiba terkenal di lapak informasi hiburan karena skandal bukan karena karya apa gak bikin muak? mungkin tidak dengan anda, memuakkan bagi saya. Informasi yang benar-benar bermutu untuk ditinggalkan. Penggemar akan mencari tahu (dan lauk lainnya), tidak sekedar disuapi menu terbatas tak bermutu basbang beracun.

Ini masih tentang seni, bukan?

Dahulu kala, ketika saya masih lucu-lucunya *EHEM, bahkan sampai sekarang*, saya menatap dengan binar-binar bintang di mata atas sebuah lukisan peta yang dibuat oleh seorang kerabat, di dinding kamar saya, iya, di dinding kamar. Dan lantas berabad-abad kemudian saya beruntung bisa diajar oleh seorang guru yang mengekspresikan ajaran sederhananya dalam kata-kata yang mengagumkan, jika beberapa orang menjelaskan, guru saya menunjukkan dan mengekspresikan.

err, ini apa sih?

Ini masih tentang seni

Tentang ekspresi jiwa yang tersalurkan lewat berbagai media, tentang pesan sendu yang dititipkan lewat hembusan seruling yang mendayu memecah keheningan malam yang syahdu, tentang kerinduan yang dituang dalam lagu sederhana dan petikan gitar, tentang semangat yang berkobar lewat kata-kata lantang sajak perjuangan, tentang suara hati yang tidak kuasa diemban kata untuk bisa menjelma dan dimengerti.

Ini saya ngomong apa sih? *plak*

Saya kagum dengan Toyosaki Aki dan Hanazawa Kana karena akting suaranya di beberapa anime, atau Kanako Sakai karena dia salah seorang seiyu yang saya tahu berasal dari Fukuoka dan walaupun baru nonton satu animenya saja. Iya, alasan saya karena dia dari Fukuoka, jangan tanya kenapa. Dua yang pertama (dan tentu dengan sempalan Taketatsu Ayana dan Nana Mizuki) Suaranya sangat mudah dikenali. Yak, saya mengagumi karena karya (?) mereka. Kalau berdasarkan teman yang mudah membandingkan siapa yang wajahnya WAH sama yang enggak, maka deretan yang saya kagumi ini tidak masuk list-nya dia. Ya begitulah. Dan ada beberapa lagi yang tidak bisa saya sebutkan kenapa alasannya pokoknya gitudeh. Saya suka. Saya juga suka dengan anime-anime keluaran studio SHAFT, dan A-1.


kyaa aki chwaan *pasang tampang fanboy* *eh*

Ini postingan tentang seni, bukan?