Kamis, Maret 01, 2012

Kereta, suatu ketika

Naik kereta api, tut tut tuuut
Siapa hendak turut?
Ke Bandung, Surabaya
Bolehlah naik dengan percuma
Ayo kawanku lekas naik
Keretaku tak berhenti lama

....
Dan seterusnya (lupa)
err, sebenarnya terusannya bisa ditemukan di sini. Lagu nostalgik dari masa perosotan batu yang meninggalkan luka abadi di kaki kanan dan ayunan di tengah taman yang jadi alat pemacu adrenalin pertama yang pernah disentuh.

Bicara tentang kereta membuat ingatan saya berputar-putar di sekitar Densha Otoko, Byousoku 5 Cm, atau Mawaru Penguindrum. Ah dan kisah pribadi yang jika diceritakan bikin pengen mojok di padang pasir. Enggak, saya gak ngeteh hermes, punya kisah kasih di kereta, terpisah jarak dengan belahan jiwa dan hanya terhubung dengan kereta, atau mendadak punya penyakit tak tersembuhkan lantas pakai topi penguin dan berganti kepribadian.

Hah sebelum jauh ngelantur, sebenarnya hanya ingin posting video ini:


KRL Ekonomi, dengan pintu terbuka abadi (kadang ada pintu yang fleksibel bisa ditutup buka, biasanya tertutup dengan efek rem), dan penumpang yang kadang memilih duduk di atap demi dianggap jantan atau malas berdesak-desakan dengan aroma keringat di dalam gerbong. Di saat kosong dan beruntung, kita bisa mendapatkan tempat duduk(?) di pintu yang tidak menghadap ke peron ketika berhenti. Dan di situlah saya, seekor kucing tampan mempesona duduk santai dan kebetulan membawa kamera saku, merekam dengan kualitas video yang seadanya, detik-detik menjelang tiba di stasiun Tanjung Barat.

KAPAN LAGI KAN
sudah jarang naik kereta, kalaupun naik dapatnya yang ber-AC.

Suatu saat nanti ketika pelayanan kereta lebih baik, keselamatan diperhatikan, penumpang tidak liar lagi, mungkin video ini bisa jadi kenangan lucu, mengendap dengan ratusan video KRL Ekonomi Jadebotabek lain di ranah daring ini.