Minggu, Maret 27, 2011

Perpisahan

Tenshi ni fureta yo

Perpisahan itu hal yang pasti, bersembunyi di balik penyangkalan tidak akan merubah apapun menjadi lebih baik, dan tidak membuat hal yang sudah pasti berubah. Iya, saya sudah sering mendengar kata-kata semacam "perpisahan itu selalu jadi akhir dari sesuatu dan awal bagi hal-hal baru yang lainnya", tapi tetap saja, sulit.

Entah kenapa, mungkin karena saya tidak pandai mengenang?

Jumat, Maret 18, 2011

ini tentang seni?


Industri hiburan memang selalu menggiurkan, materi berlimpah dan publikasi yang luar biasa menggiring minat dan menyeret bakat-bakat dari penjuru negeri untuk memeras keringatnya demi suguhan acara yang menarik hati, atau menghadirkan tawa. Keahlian dalam berbagai bidang seni ditampilkan, menyanyi, menari, berakting, dan sebagainya.


Ini masih tentang seni, bukan?

Entahlah, melihat tontonan kejar tayang yang diputar tiga jam sehari, atau acara guyonan satu setengah jam hampir tiap hari yang kadang disiarkan langsung membuat beberapa pertanyaan selalu mampir di benak saya, bagaimana dengan kehidupan para pemainnya? Apa ini sudah termasuk kategori kerja rodi? Lantas bagaimana dengan konten yang dijejalkan dalam acara tersebut? terjagakah kualitasnya? kualitas? apa kata `kualitas` pernah melintas di benak orang-orang yang menayangkan acara tersebut? dst dst.

Ini masih tentang seni, bukan?

Entahlah, liputan infotainment (info seputar dunia hiburan?.....????) lebih gemar meliput tentang pacar baru si A atau hubungan perkawinan si B yang kandas ketimbang hasil karya mereka. Atau koleksi sandal jepit si C dan skandal si KD *eh* ketimbang sumbangsih mereka di dunia hiburan.

Ini masih tentang seni, bukan?

Penggemar seperti kalian (err dan kayaknya saya juga) mungkin ingin tahu bagaimana sebenarnya kehidupan para pegiat seni yang karyanya kalian kagumi, bukan? Nah seorang entah siapa dari antah berantah tiba-tiba terkenal di lapak informasi hiburan karena skandal bukan karena karya apa gak bikin muak? mungkin tidak dengan anda, memuakkan bagi saya. Informasi yang benar-benar bermutu untuk ditinggalkan. Penggemar akan mencari tahu (dan lauk lainnya), tidak sekedar disuapi menu terbatas tak bermutu basbang beracun.

Ini masih tentang seni, bukan?

Dahulu kala, ketika saya masih lucu-lucunya *EHEM, bahkan sampai sekarang*, saya menatap dengan binar-binar bintang di mata atas sebuah lukisan peta yang dibuat oleh seorang kerabat, di dinding kamar saya, iya, di dinding kamar. Dan lantas berabad-abad kemudian saya beruntung bisa diajar oleh seorang guru yang mengekspresikan ajaran sederhananya dalam kata-kata yang mengagumkan, jika beberapa orang menjelaskan, guru saya menunjukkan dan mengekspresikan.

err, ini apa sih?

Ini masih tentang seni

Tentang ekspresi jiwa yang tersalurkan lewat berbagai media, tentang pesan sendu yang dititipkan lewat hembusan seruling yang mendayu memecah keheningan malam yang syahdu, tentang kerinduan yang dituang dalam lagu sederhana dan petikan gitar, tentang semangat yang berkobar lewat kata-kata lantang sajak perjuangan, tentang suara hati yang tidak kuasa diemban kata untuk bisa menjelma dan dimengerti.

Ini saya ngomong apa sih? *plak*

Saya kagum dengan Toyosaki Aki dan Hanazawa Kana karena akting suaranya di beberapa anime, atau Kanako Sakai karena dia salah seorang seiyu yang saya tahu berasal dari Fukuoka dan walaupun baru nonton satu animenya saja. Iya, alasan saya karena dia dari Fukuoka, jangan tanya kenapa. Dua yang pertama (dan tentu dengan sempalan Taketatsu Ayana dan Nana Mizuki) Suaranya sangat mudah dikenali. Yak, saya mengagumi karena karya (?) mereka. Kalau berdasarkan teman yang mudah membandingkan siapa yang wajahnya WAH sama yang enggak, maka deretan yang saya kagumi ini tidak masuk list-nya dia. Ya begitulah. Dan ada beberapa lagi yang tidak bisa saya sebutkan kenapa alasannya pokoknya gitudeh. Saya suka. Saya juga suka dengan anime-anime keluaran studio SHAFT, dan A-1.


kyaa aki chwaan *pasang tampang fanboy* *eh*

Ini postingan tentang seni, bukan?


Selasa, Maret 15, 2011

Jemari yang semakin lemah


Tulisan tangan saya tidak terlalu bagus untuk dicerna mata yang setiap hari memandang keindahan dunia, atau dibaca manusia-manusia berpandangan sempit yang tidak bisa menerima gaya baru nan abstrak yang belum pernah mereka lihat seumur hidup mereka *uhuk-UHUK-HUKHUK*, saya tidak menyesali kelebihan saya untuk menampilkan tulisan begitu berbeda dari tulisan tangan yang monoton dan terlalu teratur. Saya suka gaya saya.

OKE TULISAN TANGAN SAYA EMANG GAK BAGUS BAGUS AMAT, PROBLEM? *plak*

U MAD?


Namun ketika pertama kali berkenalan dengan alat bantu tulis bernama mesin tik (atau mesin ketik?) saya benar-benar terpukau. Benda ajaib itu, yang dibawa pulang pergi setiap hari oleh bapak saya, menghasilkan tulisan yang tertata rapi dengan irama yang membuat saya bersenandung dan menari, oh oke tidak seheboh itu, intinya saya tertarik. Oh dan susunan tutsnya adalah QWERTY, btw.

Inikah saatnya saya terbebas dari gaya super abstrak yang saya banggakan? Inikah awal dari segala keteraturan yang akan saya hasilkan? Memainkan ketukan irama yang menenangkan hati sembari menelurkan buah pikir cemerlang dengan alat ajaib ini? akankah aku terbang bersamamu, butterfly? *pletaaak*

Singkat kata, suatu hari, saya 'menguasai' alat ini.

Jika bisa di-lebay-kan, saya lumayan berdarah-darah dalam menggunakan mesin tik. Tuts-nya lumayan keras untuk ditekan dan mempunyai jarak yang cukup untuk menelan jemari kecil saya waktu itu. Tapi kesulitan itu ada untuk diatasi, dan saya katakan saya (lumayan) berhasil menelurkan irama saya sendiri, memang tidak mencapai kecepatan yang memadai, tapi untuk sepuluh jari kecil yang menari di tuts mesin penuh celah ini, i feel good.

Kemudian, di sebuah kantor redaksi majalah dinding dan tabloid sekolah, saya menemukan mesin tik elektrik, WOOOOW ELEKTRIK, PAKE LISTRIK. Dan saya mendapati diri saya merasa lebih kuat dari biasanya. TUTS MESIN TIK ELEKTRIK LEMAH, DAN JEMARI SAYA BERTAMBAH KUAT.

Oh pada saat yang sama pertama kali pula saya merasakan enaknya mengetik di keyboard komputer, IBM pentium II dengan HDD dua giga dan disket yang bisa buat kipas sate. KEYBOARD KOMPUTER LEMAH. Ngetik mendadak lebih ngebut, senior mendadak nitip tugas ke saya =3=" *berharap-dulu-gak-polos-polos-amat-jadi-bisa-mintak-imbalan*

Dan suatu hari saya memiliki hape pertama saya, nokia 2100 biru lucu yang walau jatuh dari lantai dua tetap sehat tampan walafiat. Dan saya pun mengenal gaya mengetik pake jempol, TUTS HAPE LEMAAH, jempol saya mendadak six pack.

Sensasi kekuatan yang bertambah pun berlanjut.

Sensasi pertama ketika punya leptop baru seberat tiga kilo belum termasuk adaptor yang kayak batu bata itu, KEYBOARD LEPTOP LEMAAAAAAAAAAAH, SENSITIIIP. Ah dan saya harus membatasi kekuatan saya, tak apa lah.

Sekarang jamannya layar towel, towel dikit dan keajaiban terjadi, pesan terkirim, gambar tersimpan, transaksi terlaksana dengan towelan nan lemah. LEMAAAAH

wait, lemah?

LEMAH?

Seketika tersadar, hidup di depan laptop dengan keyboard sensitif dan touchpad, di depan komputer dengan keyboard yang 'lunak', dan keseharian yang ditemani handphone dengan layar towel, jemari saya melupakan kekuatan masa lalu yang begitu membanggakan.

SAYA MELEMAH? NO WAY!!

hiks, saya melemah

Ini pasti konspirasi industri elektronik yang ingin membuat penggunanya kehilangan kekuatan fisik pada jemari mereka, INI PASTI KONSPIRASI UNTUK MELEMAHkAN JEMARI SAYA! *ditampol sampe ganteng*

sumber gambar: technabob