Kamis, Januari 27, 2011

lorong gelap

Apa yang ada di pikiran kalian ketika melintasi lorong gelap yang cukup panjang? apa yang kalian bayangkan? apa yang kalian harapkan terjadi? jika di ujung lorong itu ada pendar lemah cahaya apa kalian akan bergegas ke arahnya?

Baru saja saya melintasi lorong yang seperti itu, sepulang jajan (yayaya, saya sering kadang keluyuran malam-malam ke minimarket buat jajan =3=), lorong yang biasa saya lalui nampaknya mengalami masalah dalam pencahayaan (ehm, mati lampu). Dan seperti biasa, plurk selalu menyelamatkan saya (nge-plurk sambil jalan-jalan di tempat gelap, don't try this at home*).

Apakah isi belanjaan saya? hmhmhm, selain frozz, brown coffee, pocky, it's classified XD (padahal udah disebut semuanya *plak*) (oke, emang gak semuanya disebut *plak*).

Kembali lagi ke lorong gelap, sepanjang perjalanan saya jadi teringat teman yang parnoan** sama tempat gelap, apalagi kalau bentuknya jalan sempit yang panjaang banget*** bakal heboh sendiri. Mungkin sebenarnya demikianlah metode yang tepat dalam mengusir mahluk gaib, dan rasa takut(?). Saya sendiri tidak seheboh itu juga, walau deg-degan juga sih, takut nginjek kotoran kucing atau kesandung kantong sampah atau nabrak tembok yang gak keliatan saking gelapnya, atau dicolek bencong (amit-amit jabang kunyit buat yang terakhir L(==||||)").

lah kamu sendiri gak ngebayangin mahluk-mahluk aneh, man?

Err, ngebayangin gak ya? hmm, apa karena jarang nonton film horor/ baca/ menjiwai cerita horor jadinya saya gak menjadikan bayangan mahluk aneh sebagai prioritas di otak? hmm, gatau juga. Atau karena daya imajinasi saya emang di bawah standar manusia pada umumnya ya? orz *mendadak depresi*



zetsubou shitaaaa!!! *plak*

Apakah karena terlalu banyak nonton film horor atau mendengar cerita misteri atau ngefans berat dengan kepala bercahayanya hari panca sehingga terbayang-bayang mahluk-mahluk aneh setiap melintas tempat gelap? Atau karena punya pengalaman mistis? Atau karena memang bisa melihat mahluk-mahluk tersebut? Atau memang terlahir untuk menghebohkan segala macam hal? Atau karena alasan lain?

hmmm...

Oh iya, sedikit pengamatan (?) pribadi, suasana seram sewaktu nonton film horor itu biasanya lebih terasa jika kualitas suara dari film tersebut bagus. Coba deh ditonton tanpa suara, atau ditonton dengan speaker yang sudah menjelang ajal. Jika kalian punya mata tajam yang sangat jeli memperhatikan detail di film sehingga bisa menemukan goofs (cacat, cela) yang ada, mungkin itu juga membantu.

......err, baiklah, sekarang saatnya membongkar cemilan malam~

btw, COBA LIAT DEH NENGOK, DI BELAKANG KALIAN ADA APA HAYOOOO!!! *diulek*

-----
* ya lagian saya juga nyobanya di jalan sih, silahkan ikutan~
** diduga kuat kata parno berasal dari kata paranoid yang mengalami pembetawian ejaan*ngarang*
*** misalnya tembusan dari poltek UI ke jl. M Ridwan Rais, lumayan juga kalo jam 9 malam lewat situ, mwahahaha



Jumat, Januari 21, 2011

30 centimeter

Entah kenapa dia selalu begitu. Tertatih-tatih dalam berkata. Kadang terjerembab dalam percakapan trivial tak berujung, menjauhkannya dari inti pembicaraan. Ketika tersadar ia telah terombang-ambing entah di mana, jauh dari tepi yang ingin dilabuhinya.

Dia selalu saja begitu, bahkan ketika lawan bicara sudah tahu apa yang hendak disampaikan, kata-kata menguap begitu saja seperti tidak pernah mampir di ujung lidah. Entah apa saat itu ia ingin menguap saja bersama kata-kata yang hilang, entah.

Mungkin dia merasa tidak cukup bersahabat dengan kata-kata, mungkin dia tidak bisa menerjemahkan suara benaknya dalam kata, mungkin dia muak dengan kehidupan yang penuh kata tapi miskin makna dan dampak. Ah, mungkin dia hanya tidak bisa menyuarakan kata yang tersangkut ditenggorokannya.

Ada saat di mana dia menyerah dari mengandalkan kata-kata. Mengupayakan sesuatu, di luar kata, agar pesan tersampai. Kadang tersampai, kadang disalah artikan. Tapi pada akhirnya manusia mengharapkan kata juga. Seperti air direguk untuk menghapus dahaga, kata dilantunkan untuk menjelaskan maksud.

Untuk beberapa saat aku bisa mengerti gumam lemahnya, "mengapa manusia tidak belajar telepati saja, berbicara sungguh melelahkan". Bukan hanya kau yang berpikir begitu. Tapi mungkin aku tak pintar berbicara tentang ini. Tidak juga dia. Entah kenapa aku yakin begitu. Sepertinya kita hidup di gelombang yang sama. Sepertinya.

Ingin menepuk bahunya. Tapi kaki ini tidak beranjak juga. Lebih dari 30 centimeter dan aku merasakan ada harmoni yang pudar dari gelombang ini. Gelombang di mana kita hidup. Seperti ada yang buram, hilang dan terlupakan jika langkah ini mendekat.