Jumat, Januari 21, 2011

30 centimeter

Entah kenapa dia selalu begitu. Tertatih-tatih dalam berkata. Kadang terjerembab dalam percakapan trivial tak berujung, menjauhkannya dari inti pembicaraan. Ketika tersadar ia telah terombang-ambing entah di mana, jauh dari tepi yang ingin dilabuhinya.

Dia selalu saja begitu, bahkan ketika lawan bicara sudah tahu apa yang hendak disampaikan, kata-kata menguap begitu saja seperti tidak pernah mampir di ujung lidah. Entah apa saat itu ia ingin menguap saja bersama kata-kata yang hilang, entah.

Mungkin dia merasa tidak cukup bersahabat dengan kata-kata, mungkin dia tidak bisa menerjemahkan suara benaknya dalam kata, mungkin dia muak dengan kehidupan yang penuh kata tapi miskin makna dan dampak. Ah, mungkin dia hanya tidak bisa menyuarakan kata yang tersangkut ditenggorokannya.

Ada saat di mana dia menyerah dari mengandalkan kata-kata. Mengupayakan sesuatu, di luar kata, agar pesan tersampai. Kadang tersampai, kadang disalah artikan. Tapi pada akhirnya manusia mengharapkan kata juga. Seperti air direguk untuk menghapus dahaga, kata dilantunkan untuk menjelaskan maksud.

Untuk beberapa saat aku bisa mengerti gumam lemahnya, "mengapa manusia tidak belajar telepati saja, berbicara sungguh melelahkan". Bukan hanya kau yang berpikir begitu. Tapi mungkin aku tak pintar berbicara tentang ini. Tidak juga dia. Entah kenapa aku yakin begitu. Sepertinya kita hidup di gelombang yang sama. Sepertinya.

Ingin menepuk bahunya. Tapi kaki ini tidak beranjak juga. Lebih dari 30 centimeter dan aku merasakan ada harmoni yang pudar dari gelombang ini. Gelombang di mana kita hidup. Seperti ada yang buram, hilang dan terlupakan jika langkah ini mendekat.