Minggu, September 26, 2010

Tangis

Apa kau pernah mengalaminya? Tenggorokan terasa sempit seakan dihimpit gemuruh di dada. Suara tercekat, tertahan sesuatu, terbata-bata, terlontar dalam serpihan lirih. Tiba-tiba rongga mata menghangat, tergenang. Mungkin kau menahan nafas berharap air mata tak tumpah, tapi itu tak lama.

Seketika kau hela, sekejap saja bercucuran.

Sedihkah kau sehingga ia harus mengelus lembut pipimu? Terbakar amarah-kah kau sehingga ia harus mendinginkanmu? terbahagiakankah kau sehingga ia turun serta menyambut? Atau kau hanya ingin ia hadir begitu saja, tanpa alasan?

Apa kau menyambutnya dengan raungan di terang benderang? Atau menyimpannya dalam lirih bisu di kelam malam? Atau menyelipkannya dalam simpuh sujud penuh harap?

Seperti hujan bersambut pelangi, kuharapkan untukmu jernih setelahnya, di mata dan di hati.

Selasa, September 21, 2010

sore

Riuh rendah dan bising kota tak mampu menahanku untuk tetap menatap anggunnya awan yang berarak pelan, menghirup sendu temaram senja sudah bersemayam dalam alur nafas, sejak lama. Terkadang secangkir coklat hangat menemani di sudut meja, mengepulkan uap yang membentuk senyum imajiner, di lamunku.

Aku tak bisa membencimu.

Kuputuskan itu sejak lama. Segala ketidaksepahaman yang mengganjal, segala kata-kata berbalut belati yang menghujam, segala hal-hal remeh yang berubah wujud menjadi dinding-dinding raksasa penuh duri yang menghadang, memang menyakitkan. Kau dan aku. Kita.

Ketika yang terlihat hanyalah kesalahan dan kesalahan, lantas mengingatkan dengan cara yang salah, terciptalah benturan itu. Menyakitkan.

Tetap saja aku masih kesulitan untuk menghindari segala yang menyakitkan ini, sesulit aku membencimu. Aku tak tahu apa ada benci di hatimu. Dan aku tak akan mengakui kesulitanku membencimu.

Langit senja masih saja di situ, coklatku telah kehilangan uap senyumnya. Entah kenapa aku berharap yang sebaliknya.

Sabtu, September 11, 2010

Sepenuh Hati

Berlalunya Ramadhan bersambut kemeriahan Idul Fitri. Gejolak suka cita yang didendangkan sepanjang perjalanan, dahaga hati para perantau yang menemukan kedamaian dalam senyum kerabat di kampung halaman, munajat rindu untuk pertemuan dengan bulan penuh berkah sebelas purnama ke depan, saling mengucap selamat atas datangnya Syawwal, semua membaur menjadi satu semangat. Semangat Idul Fitri.

Jangan lupakan limpah ruah makanan yang membangkitkan hawa nafsu yang terkekang selama satu bulan sebelumnya, sungguh cobaan yang nikmat :p.

Di sisi lain gempita Syawwal ini masih ada juga sebagian orang yang berkeluh kesah. Tentang uang saku lebaran yang semakin menurun, pagi Syawwal yang terlalu cerah padahal mereka masih ingin berkemul, gangguan di jaringan komunikasi akibat lalu lintas data yang (mungkin) terlalu gemuk, lalu lintas yang padat merambat, sebutkan saja contoh keluhan lainnya. Biasanya keluhan itu kreatif kok, social media siap menampung segala keluhan (dan bahkan kadang makian) anda. Ahaha.

Selalu ada yang sepenuh hati, di balik senyum sederhana, di balik lembut sapaan hangat, di balik lirih permintaan maaf, di balik ulur tangan untuk membantu sesama, bahkan di balik keluh kesah tak tentu arah dan makian berdarah-darah. Mudah-mudahan kita senantiasa terjebak dalam kebaikan, sepenuh hati.

*sungkem*


Rabu, September 08, 2010

lebih gelap?

Ini membingungkan. Kadang saya terbentur dengan tingkah saya sendiri. Sejenak kemudian mempertanyakannya berlarut-larut, tenggelam dalam lamun. Mencari alasan apa yang sebenarnya mendasari hal yang saya lakukan. Melempar pandang jauh ke langit, berharap hujan jawaban memuaskan dahaga batin. ah.

Kehilangan sesuatu. Ya, saya kehilangan. Kehilangan rasa suka pada beberapa hal yang tadinya sangat saya suka. Hilang begitu saja. Seperti tidak pernah suka sebelumnya. Seperti tidak pernah mampir di hati barang sekejap.

Hilang begitu saja...

Jika dua paragraf di atas ternyata merupakan bagian dari `Darker than black`-nya Tensai Okamura, mungkin seharusnya saya sudah punya kekuatan super tertentu, ahaha.

huff.