Selasa, September 21, 2010

sore

Riuh rendah dan bising kota tak mampu menahanku untuk tetap menatap anggunnya awan yang berarak pelan, menghirup sendu temaram senja sudah bersemayam dalam alur nafas, sejak lama. Terkadang secangkir coklat hangat menemani di sudut meja, mengepulkan uap yang membentuk senyum imajiner, di lamunku.

Aku tak bisa membencimu.

Kuputuskan itu sejak lama. Segala ketidaksepahaman yang mengganjal, segala kata-kata berbalut belati yang menghujam, segala hal-hal remeh yang berubah wujud menjadi dinding-dinding raksasa penuh duri yang menghadang, memang menyakitkan. Kau dan aku. Kita.

Ketika yang terlihat hanyalah kesalahan dan kesalahan, lantas mengingatkan dengan cara yang salah, terciptalah benturan itu. Menyakitkan.

Tetap saja aku masih kesulitan untuk menghindari segala yang menyakitkan ini, sesulit aku membencimu. Aku tak tahu apa ada benci di hatimu. Dan aku tak akan mengakui kesulitanku membencimu.

Langit senja masih saja di situ, coklatku telah kehilangan uap senyumnya. Entah kenapa aku berharap yang sebaliknya.