Sabtu, April 11, 2009

lebih bening

*clingak-clinguk, melihat situasi, eh sepi,  posting lagi ah hari ini, hihihi *

Doaku Hari Ini
-Abdurrahman Faiz-

Tuhanku
berikanlah waktuMu padaku
untuk tumbuh di jalan cinta
dan menyemainya
di sepanjang jalan ayah bundaku
di sepanjang jalan Indonesiaku
di sepanjang jalan menujuMu

ini nukilan puisi dari sebuah buku, gw udah lama beli buku ini, udah baca berkali-kali, karena gak terlalu tebal dan yang paling penting, beautiful.

weits, buku apa yaa?

ini bukunya [dari: www.amartapura.com]

hoho, judulnya Untuk Bunda dan Dunia, ini bukunya Faiz (Abdurrahman Faiz, lengkapnya), dia putranya Helvy Tiana Rosa. err, buku pertamakah? *cek bentar* err sepertinya iya, haha, kalo salah maap ya Faiz. kelahiran 15 November 1995, dan ketika buku ini terbit, itu pas umurnya 8 tahun, wedew, haha. Bukunya terbit taon 2006 yang lalu nih *telat banget gw ngereviewnya, hihihi

okeh, fokus dikit..

hari ini, pas gw iseng liat-liat rak buku, eh buku ini nongol dikit ke atas seakan minta dibaca, huhu. Dan seperti setiap kali gw ngebacanya setiap kali pula gw terkagum. Walaupun gw singkirin fakta bahwa yang nulis itu anak kecil umur delapan taon, tetep aja bagi gw puisi-puisi dia, err, apa ya, bening (^_^)"

dan kali ini gw terpaku ngebaca puisi Faiz yang gw tulis di atas itu. 

ah gw selalu suka banget istilah "jalan cinta". Jalan di mana setiap orang yang menjejakkan kaki di atasnya merasakan luapan gembira di hati, merasakan kobaran semangat menerangi hari-harinya. Langkah-langkah terasa lebih ringan di atasnya, meskipun mendaki. Kesulitan hanya angin lalu di jalan ini karena terhembus damai yang melingkupinya. Kesedihan hanya gelap sekejap di jalan ini, karena tergerus cahaya cinta yang menaunginya.   

jiah, jadi ribet

pokoknya gw suka istilah jalan cinta. n sebagai catatan, ini bukan cinta-picisan-cap-jahe yang biasa dijajakan kebanyakan band-band musik pop masa kini *tendensius mode ON*. 

satu hal lagi yang bikin gw ngangkat jempol, adalah kalimat "di sepanjang jalan Indonesiaku". Subhanallah, salut dengan cita-citanya untuk menyemai cinta di sepanjang jalan Indonesia. Tidakkah kalian, para manusia dewasa, pernah berpikir dan bercita-cita seperti itu? yang terlihat sekarang, banyak yang menuntut negeri untuk memberi, tapi tak pernah ingin memberi untuk negeri, haha, apakah semakin dewasa berarti semakin egois dan tidak peduli? gak tau ah, kok jadi ngebahas ini, haha

kadang kita butuh sedikit teguran dari orang-orang polos, hehe

eniwey, salute buat Faiz lah. Mudah-mudahan puisi-puisi yang lahir dari Faiz selalu bening seperti biasa, jernih untuk jadi telaga, indah untuk dinikmati manusia berhati kusam seperti saya (^_^).