Jumat, Mei 16, 2008

igossummit2

MEMAKAI OPEN SOURCE SOFTWARE ADALAH PERJUANGAN

Tema: Aku Pelajar dan Mahasiswa Indonesia Bangga Menggunakan Free/Open Source Software (FOSS)


Pertama kali kenal komputer

Kalau ada pertanyaan seputar kapan kita mulai mengenal komputer, pikiran saya akan segera berkelana ke saat-saat ketika pertama kali keranjingan bermain game chip challenge di komputer Pakde saya. Waktu itu saya masih di bangku Sekolah Dasar.


Masih terbayang prompt pertama layar komputer dengan jelas bertuliskan Windows 95. Lalu setelah itu tampillah dekstop komputer dengan gambar foto keluarga Pakde terpampang di situ. Ada shortcut ke folder games yang rupanya sudah disiapkan oleh Pakde, dengan niat si kecil Lukman dan Aziz (anak Pakde) tidak mengutak-atik program lain. Itu berguna buat Aziz, tidak untuk saya, buktinya foto keluarga yang menjadi desktop background mukanya dihiasi kumis karena saya tidak sengaja membuka MS Paint dan dengan segera berasyik-masyuk dengan 'pembikinan kumis'.


Periode selanjutnya adalah selepas SMP. Saat itu bisa atau tahu komputer identik dengan mampu memakai program MS Office ataupun MS Excel, bisa mengganti gambar desktop background, dan hal-hal remeh lainnya (seperti mahir bermain solitaire dsb. :D). Bahkan untuk dua program yang saya sebutkan di atas sudah menjadi bagian kurikulum. Waktu itu saya sendiri tidak berhenti di sekedar bisa program office, tetapi melanjutkan hobi saya sejak kecil, yaitu mengutak-atik gambar, kali ini dengan beberapa software pengolah gambar (Adobe photoshop, CorelDRAW, dll.).


Selain itu, saat itu saya sudah agak mengerti tentang partisi, install ulang, dan lain-lain. Tapi selama periode itu ada yang saya tidak sadari. Ya, saya tidak menyadari jika semua yang saya pakai, pelajari, pergunakan, hanya sebagian yang mahakecil dari dunia komputer sebenarnya yang sedang berkembang amat sangat pesat.


Dan lebih parah lagi, saya ternyata selama ini terjebak di dunia Microsoft Windows users! Dunia dengan segala kemudahan, ketersediaan, istilah kerennya user-friendly. Klik next beberapa kali kemudian temukan tombol finish dan klik, maka terinstallah sebuah software pada komputer anda. Anda tidak perlu tahu bagaimana program itu dibuat, logika program yang dipakai, serahkan semua kepada perusahaan kami yang mempekerjakan programmer-programmer, tugas anda hanya menyerahkan uang anda kepada kami. Itu pesannya.


Dan yang teramat sangat mahaparahnya lagi, (malu menuliskannya) persentase software yang saya pakai, selain driver bawaan komputer dan beberapa free software dari majalah komputer, didominasi oleh software hasil beli di pinggiran sebuah jalan di Bandung dengan harga satu keping CD softwarenya bisa dibandingkan dengan dua kali harga satu porsi ketoprak (rumit tapi pasti dapat dipahami :) ). Miris.


Saatnya untuk mengetuk pintu kesadaran diri.


Pertama kali kenal Linux

Pertama kali mendengar Linux, dahi mengernyit, sambil berkata dalam hati “itu apa sih?”. Dan segera setelah bertanya (seputar OS berbasis Open Source) kepada sesama windows-users yang kebetulan sudah tahu dan terlanjur terbiasa dengan Windows, jawaban yang keluar bertema “itu susah banget”, “gak enak”, “gak user-friendly”, dsb. Di sini ada pelajaran berharga. Subjektifitas, walaupun berdasarkan pengalaman, sulit untuk dijadikan sandaran. Dan berpegang dengan pelajaran berharga itu, lebih baik mengenal Linux dari sisi saya sendiri.


Dan setelah membaca sedikit sejarah tentang Linux, idealisme yang diusung, semangat yang digelorakan penggiatnya, sisi ekonomisnya (sepertinya ini paling penting :D) dan dengan asumsi-asumsi yang saya bayangkan, yang muncul dalam otak malah satu kata, “tantangan”.


Dan tantangan itu berarti pertanyaan, “berani gak, pake linux?”. Tentunya, dengan gelora muda yang ada dalam diri saya, dan rasa penasaran yang teramat besar, terlihat tidak jantan untuk tidak menjawab tantangan ini, berlebihan :). Tentunya sebagai “anak baru” yang terlanjur keranjingan windows, hal ini tidak mudah. Jadi saya memulainya dengan menggunakan distro LiveCD Knoppix. Setelah asik dengan distro “testdrive” ini, saya langsung berminat untuk menancapkannya secara permanen pada harddisk notebook saya. Dan cobaan pun datang. CD-ROM rusak setelah instalasi ketiga (pertama dan kedua mengalami kernel panic) karena saya memaksakan instalasi secara maraton selama satu malam pada notebook tua ini.


Akhirnya, setelah mengeluarkan uang beberapa ratus ribu untuk membeli DVD-Combo, instalasi diulang dan saya dengan sukses “mendua” dengan dua OS. Dan pada masa-masa inilah saya merasa tercerahkan dengan pengetahuan yang lebih luas.


Ya, seiring dengan masa coba-coba (bukan uji coba), pemahaman perlahan datang dan mencerahkan. Betapa selama ini saya, seorang mahasiswa Teknik Informatika, terbuai dengan ke-user-friendly-an, betapa selama ini saya terjebak dalam segala ketersediaan dan kemudahan, betapa selama ini saya kira saya akan selamanya memakai software bajakan dan terjebak pada masa kegelapan :).


Dan nyatanya Linux tidak kalah keren dengan OS tetangga yang user-friendly itu! Akhir-akhir ini fitur-fitur displaynya malah menurut saya lebih bagus dan variatif, setiap distro punya keistimewaannya masing-masing, unik dan menarik. Software yang tersedia dalam paketannya pun sudah sangat memadai untuk sekedar menulis seperti yang sedang saya lakukan sekarang, untuk mengolah gambar pun sudah ada dan lumayan, dan banyak lagi yang menarik. Silahkan dicoba.


Kalau anda sedang mencari alasan kenapa harus menggunakan Linux, saya punya beberapa alasan yang mungkin anda setuju, mungkin juga anda sangat setuju, mungkin juga anda amat sangat setuju:

  1. Memakai Linux berarti anda harus mulai punya hobi membaca manual book

  2. Memakai Linux berarti anda turut memerangi pembajakan

  3. Memakai Linux berarti anda suka untuk menaklukkan tantangan

  4. Memakai Linux berarti anda adalah pejuang

  5. Memakai Linux berarti anda menghemat uang anda

  6. Memakai Linux berarti anda membuat kerut di kening Bill Gates bertambah :)


Di mana posisi saya?

Saat ini saya sedang menggunakan distro Slackware yang mempunyai mitos “susah”. Distro ini belum terlalu mengikuti budaya distro-distro terbaru yang mulai serba otomatis. Tapi kelebihannya (menurut buku manual) adalah distro ini adalah yang paling stabil karena komponennya telah teruji.


Pada kenyataannya saya memang agak kesulitan, tapi lambat laun saya harus membiasakan diri dengan budaya ini, dan alhamdulillah usaha untuk merekayasa otomatisasi beberapa fitur sudah sukses saya jalankan, lainnya masih menunggu otak malas saya ini bekerja lebih keras. Dan dengan bangga saya katakan, inilah perjuangan! Dan bagi saya perjuangan butuh teman, maka saya pun harus keep contact dengan teman teman atau pun senior yang juga pengguna dan penggiat Linux, untuk menjaga kekonsistenan dan rasa 'saya tidak sendirian'.


Begitulah, dan mungkin ada di antara teman-teman yang punya masa-masa awal berkenalan dengan komputer hampir mirip dengan saya, dan punya semangat untuk hijrah Sistem Operasi (Open Source tentunya), saya ucapkan salam kenal dan salam perjuangan!